Rabu, 24 Juli 2013

41. A.D Pirous


Lahir :
Meulaboh,
Nangroe Aceh Darussalam,
11 Maret 1932

Pendidikan :
Fakultas Seni Rupa danDesain ITB,
Studi Desain Grafis diRochester Institute of Technology, New York,Amerika Serikat.

Profesi :
Dosen Institut TeknologiBandung  (1970),
Dekan dan Guru Besar yangmengajar mata kuliah SeniModern di Kawasan AsiaPasifik (1980)

Penghargaan :
Anugerah Budaya &Penghargaan 2 abad KotaBandung (2010)
Pirous dikenal di dalam dan di luar negeri sebagai pelopor seni rupa kontemporer IndonesiaKeluarga punya arti penting dalam perjalanan karier Pirous. A.D Pirousmasih tampil sebagai perupa bermutu tinggipandai mengelola pekerjaannyadan bernyali dalam membina hubungan-hubungan antar-bangsa di bidang seni rupa.Sepanjang kariernyaPirous tidak terjebak untuk hanya menuangkan ketrampilan yang diulang-ulangmelainkan lebih dahulu memberi konseptualisasi yang khusus danperenungan yang dalamPirous yang enerjikPirous yang rindu kebaruan dalam berkaryaadalah sosok yang jejak-jejak karyanyaakan selalu dikenang.***

Minggu, 21 Juli 2013

40. Seno Wahyu Sampurno

belum ada sumber

38.Lucia Hartini

Tempat / Tanggal lahir: Temanggung, Jawa tengah, Indonesia / 10 Januari 1959
Pendidikan: SSRI Yogyakarta, Indonesia (1976 – 1977)
PENGHARGAAN
2006 "Jakarta Art Awards", Penghargaan Khusus
1977 "Prathika Adhi Karya", untuk Sketsa dan Lukisan terbaik
1976 "Prathika Adhi Karya", untuk karya Sketsa terbaik.
PAMERAN TUNGGAL
2002 Pameran Tunggal "Spirit of Life" di Bentara Budaya Jakarta, Indonesia
1994 Pameran Tunggal "Batas Antara Dua Sisi" di Bentara Budaya Yogyakarta, Indonesia
1992 Pameran Tunggal di Bentara Budaya Jakarta, Indonesia
PAMERAN BERSAMA (selected)
2011
  • Pameran Seni Rupa Kelompok ILALANG "Dreamscapes" di Tembi Contemporay Yogyakarta
2010
  • Pameran bersama "Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita", di Balai Soedjatmoko (Bentara Budaya), Solo.
2006
  • Pameran bersama "Milestones Bienalle", Jakarta.
  • Pameran bersama "Kisi-Kisi Jakarta", Kakarta Art Awards.
2005
  • Pameran bersama "Still Life" di Raka Gallery, Bali.
2004
  • Pameran bersama "To Love Humanity" ROTARY CENTENNIAL, Jakarta.
  • Pameran bersama "ABSTAIN" Drawing Exhibition, Solo.
  • Pameran bersama "Person into Person" di Gracia Art Gallery, Surabaya.
2003
  • Pameran bersama Rumah Seni Vanessa, Jakarta.
  • Pameran bersama "Jenang Gulo Ojo Lali" IKAISYO di MuseumAffandi, Yogyakarta.
2002    
  • Pameran bersama "INTERPELLATION" Cp Open Biennale di Gallery Nasional, Jakarta.
  • Pameran bersama di Gallery Langgeng Magelang.
  • Pameran bersama Diversity in Harmony di Taman Budaya Yogyakarta
  • Pameran bersama Sepuluh Perempuan Pelukis di Taman Budaya Yogyakarta.
  • Pameran bersama "Saksi Mata" di Nadi Gallery Jakarta.
  • Pameran bersama di One Gallery Jakarta.
  • Pameran tunggal "Spirit of Life" Lucia hartini di Bentara Budaya Jakarta.

37. Wakidi

Wakidi (lahir di Plaju, PalembangSumatera Selatan1889 – wafat di BukittinggiSumatera Barat1979) adalah seorang pelukis naturalis asal Indonesia yang lukisannya banyak mengandung corak Mooi Indie (Hindia molek). Bersama dengan Abdullah Surio Subroto (1879-1941) (ayah Basuki Abdullah) dan Pirngadie (1875-1936), Wakidi adalah satu di antara tiga pelukis naturalistik Indonesia yang terkemuka di zamannya. Orang tuanya berasal dari SemarangJawa Tengah yang bekerja di pertambangan minyak Plaju.[1]
Wakidi mulai melukis sejak usia 10 tahun. Sebagai guru melukis, Wakidi sempat belajar dengan seorang pelukis Belanda bernama van Dick di KweekschoolBukittinggiSumatera Barat. Dia lulus dari sekolah itu pada tahun 1908 dan terus mengajar disana. Meskipun banyak berkarya, hampir semuanya dikoleksi orang, sehingga Wakidi tidak pernah mengadakan pameran lukisannya. Karya-karyanya banyak dikoleksi oleh istana kepresidenan dan sejumlah tokoh penting, seperti wakil presiden Indonesia, Mohammad Hatta dan Adam Malik.

36. Wahdi Sumanta

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 13 Oktober 1917. Putra dari mantan Menko Polkam Sarono Indrokusumo Susilo. Minatnya kepada melukis sudah nampak sejak ia bersekolah di HIS. Setelah tamat HIS, ia belajar melukis pada Abdullah Soeriosoebroto (ayah pelukis Basuki Abdullah) selama beberapa bulan karena dorongan Dr. Kadmirah yang melihat bakat yang dimilikinya. Kemudian ia mengembangkan bakat itu dengan berlatih bersama-sama dengan pelukis Affandi, Barli Sasmitawinata, Sudarso dan Hendra Gunawan.

Tahun 1964, ketika Bandung diduduki Belanda, Wahdi mengungsi ke Sumedang. Selama dalam pengungsian ia tidak melukis sama sekali. Kembali dari pengungsian tahun 1951. Setiba di Bandungia menggabungkan diri dengan Himpunan Pelukis Bandung St. Lucas Gilde yang dipimpin oleh seorang dokter berkebangsaan Austria. Bersama anggota lainnya yang pribumi seperti Barli, Kerton Sujana, Rudiyat, dan Suwaryono (Soewarjono), Perkumpulan ini secara tetap setiap tahun menyelenggarakan pameran, paling tidak dua kali setahun dan biasanya di selenggarakan di Gedung YPK.
Sempat menjadi guru Sekolah Rakyat, namun hanya bertahan selama dua tahun. Sekeluarnya dari sekolah rakyat, ia membuka toko meubel 'Sri Tunggal' di Cicadas. Perusahaan itu berkembang dengan baik, sehingga ia mampu membeli sebidang tanah di Kiaracondong. Di atas tanah tersebut kemudian di bangun 'Sanggar Sangkuriang', yang di resmikannya pada tahun 1975.


Pertemuannya dengan Affandi mendorongnya kembali melukis. Tahun 1975, bersama Affandi, Barli, dan Sudarso mengadakan pameran bersama di TIM dengan sponsor Dewan Kesenian Jakarta. Kemudian ditahun 1976, ia mengadakan pameran tunggal atas sponsor Ajip Rosidi di Balai Budaya Jakarta. Tahun 1977, ia kembali mengadakan pameran tunggal di TIM atas Sponsor Dewan Kesenian Jakarta.

Atas bantuan sastrawan Ramadhan KH, pada tahun 1979, Wahdi sempat melawat ke Eropa, yang kemudian dijadikan kesempatan olehnya untuk melihat-lihat lukisan klasik dalam museum-museum di Eropa. Pelukis naturalis yang mempunyai sensitifitas terhadap pemandangan alam yang indah ini wafat di Bandung, 11 Maret 1996 akibat penyakit liver. 

35. Tio Tjay

lahir pada 1946 Di Jakarta dengan nama Tio Hok Tjay) adalah seorang pelukis Indonesia yang lama menetap di Brasil. Pada 1967 ia berimigrasi ke negara Amerika Selatan itu bersama keluarganya yang pindah ke sana.
Ia banyak menyelenggarakan pameran di São Paulo; pada 1971 hingga 1975 ia menetap di Manaus, dan pada 1976 ikut serta dalam pameran Bienal Nacional de São Paulo.
Lukisannya sangat kuat dipengaruhi oleh warna latin yang dominan di Brasil. Pada tahun 1980-an Tio Tjay kembali ke Indonesia dan berkarya di negara kelahirannya.

34. Taufan St

Sejak kanak-kanak sebagian besar hidupnya dilalui di sebuah kota kecil bernama Cipanas (1100 m dpl) yang berada di kaki Gunung Gede-Pangrango, Kabupaten Cianjur. Kota Cipanas terkenal sebagai kota tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara. Di kota ini berdiri Istana Kepresidenan Republik Indonesia, di sebelah Utaranya terletak Kebun Raya Cibodas atau Taman Hutan Raya Cibodas (Cibodas Botanical Garden) yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (Gede-Pangrango National Park) pada ketinggian 1275 m dpl. Kedekatan bathin pada suasana alam pegunungan dan pengalaman semasa kecil yang indah inilah kemudian banyak berpengaruh dalam pembentukan dan proses pencapaian karirnya kelak.
Sejak kecil banyak melewatkan waktu bermain bersama teman-temannya untuk pergi ke gunung atau hutan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Kegemarannya melukis makin menjadi setelah dia merasakan betapa indahnya suasana alam itu dan dengan bekal bakat yang dimiliki dia mencoba merekam lewat goresan tangan disetiap karyanya. Akhirnya dia memutuskan untuk memperdalam bidang seni rupa guna mengasah bakat dan keterampilannya tersebut. Setelah menempuh pendidikan formal pada era 1970-an, Taufan St memperluas pengetahuan dan pergaulan dibidang seni rupa dengan berbagai kalangan baik seniman maupun institusi seni di Bandung. Pengaruh trend seni rupa global maupun lokal yang begitu kuat pada saat itu, mendorongnya untuk melakukan banyak percobaan-percobaan (experimental art) dengan berbagai macam teknik dan media. Banyak karya telah dihasilkan dalam prosesnya, namun semua itu ternyata tidak juga dapat memenuhi hasrat terdalam yang lama terpendam dalam jiwa, mendesak diungkapkan dalam wujud impresi dan ekspresi alam liar.
Seraya terus mencari jawaban dalam proses pencarian makna atas hasrat terbesarnya tersebut, Taufan St kemudian memutuskan untuk bekerja di bidang Commercial Art (en:Commercial_art) sebagai perancang grafis hingga akhir tahun 1990. Selepas berhenti dari pekerjaannya ini, dia kembali mulai menggeluti dunia seni rupa dan menggarapnya dengan tehnik (gaya) photo-realis atau hiper-realis (en:Hyperrealism_(visual_arts)). Dengan semakin matangnya pemahaman dan filosofi seni yang dibangun selama kurang lebih 2 dekade, membantu Taufan St menemukan jawaban atas hasrat idealisme dan konsep pemikiran tentang ekspresi berkesenian yang dicarinya. Jawaban ini kemudian dituangkan dalam filosofinya “seni tidak semata hanya untuk seni, tetapi seni untuk hidup dan kehidupan."
Berlandaskan filosofi tersebut Taufan St mulai meng-eksplorasi dan menggubah tema pada karya-karya lukisannya yang mencoba memadukan hasrat terdalam untuk mengungkap etika-estetika alam dalam ekspresi berkeseniannya. Adapun tema alam yang kemudian diangkat lebih menitikberatkan pada korelasi antara kondisi dan pengaruh lingkungan hidup saat ini, terhadap kehidupansatwa liar endemik dan langka di Indonesia beserta ekosistemnya, yang sering disebut dengan istilah "Seni Hidupan Liar" (Wildlife Art en:Wildlife_art). Tema ini dirasa perlu diangkat sebagai bentuk kepedulian dan rasa keprihatinannya dalam menyikapi situasi alam dan kelestarian lingkungan hidup yang semakin hancur hari demi hari.

33. Syayidin

Syayidin adalah pelukis multitalenta berasal dari Indramayu. Selain melukis, ia juga menari, bermusik khususnya seni lokal Indramayu. Ia adalah lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Hasil karyanya telah dipamerkan di dalam maupun di luar negeri, dalam bentuk pameran tunggal maupun pameran bersama.

32. Sudarso

Sudarso was born during the Dutch Colonial Rule of Indonesia in 1914.  Under Dutch rule Indonesian children were denied basic education, and specialized training like traditional art was unheard of.  Lower class children were destined to serve as laborers or delivery boys while aristocrats and intellectuals or civil servants were given special priorities.
This was also the case for Sudarso.  Yet as a delivery boy, one of his regular stops was delivering eggs and milk to his future teacher Affandi.  Sudarso would sit and watch for hours while Affandi painted.
Slightly irritated one day Affandi asked, “why do you like to watch me paint for hours and hours?”  Sudarso replied that he wanted Affandi to instruct him in drawing and painting.  Shortly after Affandi started giving him lessons and half used tubes of paint that initiated their life long friendship.
It may have been luck that led Sudarso to dedicate his entire life to painting, yet there was still much to overcome.  Contemporary painters from Indonesia had completely detached themselves from being Indonesian.  Sudarso chose to embrace his heritage and culture bringing many hardships but still art afforded Sudarso the ability to float through all realms of Indonesian Society.
Undiscovered or creative talent of any sort by Indonesians was overlooked by the Dutch.  They would belittle and degrade the potential of all indigenous peoples.
Exhibitions for Indonesian painters were unfathomable unless the painter spoke Dutch, dressed Dutch and was formally educated by a Dutch painter.
When the Japanese moved into Indonesia upon Germany invading Holland, they were astonished to find such a large body of brilliant work in painters that were exhibiting for the first time.
The Indonesian Art Scene began to flourish and Sudarso moved to Yogya and began teaching at Akademi Seni Rupa Indonesia, the most prestigious art school of its day.  Further, he was head of the legendary “Pelukis Rakyat.”
He choose simple and happy, beautiful girls and young women as his subjects.  He found such amazing beauty and intensity in women but generally he is most noted for his rendition of feet and hands.  Everything about the feet and hands is realistic down to the smallest details.
On top of fathering a painting revolution, Sudarso, along with his wife Hj. Asiyah had 8 children.  Five of the children were boys and each one became a painter.  The youngest of these sons Sudargono or ‘Gono’ has established himself as an art figure to another generation of Indonesian painters.  Gono, is a strong and original abstract painter with a sense of color and textureunparalleled in art.  His paintings sell all over the world for thousands of dollars.
At this point in time , Sudarso’s paintings are extremely rare.  He has been collected by many museums and by private collectors around the world. President Soekarno, the first president of the Republic of Indonesia, was his most notable collector and was also a close personal friend.
Sudarso passed away in 2006.  His contribution to Indonesian modern art was monumental as he taught and inspired generations while he further transformed art into political tool for Indonesians.

31. Srihadi Soedarsono

Srihadi Soedarsono (lahir Surakarta4 Desember 1931) adalah seorang pelukis Indonesia yang karyanya banyak diburu kolektor dalam dan luar negeri.
Pernah diangkat menjadi anggota Tentara Pelajar pada rentang tahun 1945 hingga 1946. Selanjutnya pada tahun 1946 hingga 1948 ia dipercaya menciptakan poster-poster untuk Balai Penerangan TNI, Divisi X, Solo.
Ia mulai memasuki pendidikan seni di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung) dan lulus pada tahun 1958. Kemudian ia melanjutkan kuliah di Ohio State University hingga mendapat gelar master of art.
Selain sebagai pelukis, ia juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung dan Institut Kesenian Jakarta.
Karya Srihadi Soedarsono memiliki proses yang panjang dan berkelanjutan. Karya awal sangat dipengaruhi hasil pendidikan, yaitu geometris sintetik. Pada tahun 1960 mulai menuju eksperimentasi pada bentuk abstrak lewat tempelan potongan kertas dan spontanitas warna. Memasuki 1970 cenderung impresionis lewat cat air dan ekpresionis lewat cat miyak dan sering memasukkan unsur simbolis dalam lukisannya.
Terakhir karyanya muncul dalam bentuk simplifikasi dengan garis horison yang kuat, selain juga lukisan figur-figur puitis yang terinspirasi ajaran Zen.
Sebagai pelukis senior dan sangat berdedikasi, ia mendapat banyak penghargaan, antara lain:

30. Sodikun Assedangi

Belum ada sumber

29. S.Sudjojono

Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara Mei 1913 – 25 MaretJakarta1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan “S. Sudjojono”.
Soedjojono lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatera Utara, beristrikan Marijem, seorang buruh perkebunan. Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Yudhokusumo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Cimahi, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada RM Pirngadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia belajar kepada pelukis Jepang, Chioji Yazaki.
Ia sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu. Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931.
Namun ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis. Pada tahun itu juga ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Obyek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya.
Lukisan terkenal :
  • Di Depan Kelambu Terbuka
  • Cap Go Meh
  • Kawan-kawan Revolusi
  • Pengungsi
  • Seko

28. Rusli

Rusli adalah seorang putra dari keluarga krani sebuah perkebunan tembakau di Padangbulan, Medan, Sumatera Utara. Ketika anak-anak dia menempuh pendidikan HIS (SD) di Medan, kemudian melanjutkan ke tingkat MULO (SMP) di Yogyakarta. Pada mulanya dia ingin mempelajari ilmu ketabiban, namun pilihan akhir jatuh pada alam pikiran Rabindranath Tagore, seorang tokoh besar dibidang kebudayaan dan filsafat dari India. Untuk itu, dia kemudian menempuh pendidikan Kala Bhawana Art Department Shantiniketan University of Rabindranath Tagore’. Disana dia menghabiskan waktu sekitar 5-6 tahun menekuni bidang seni lukis murni, seni patung mural/relief, terakota, arsitektur dan filsafat kesenian timur mashab shantineketan.

Sekembalinya dari India, dia langsung memasuki kancah revolusi fisik kehidupan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Selanjutnya sekitar tahun 1945-1949 menjadi guru pada Perguruan Taman Siswa Pusat di Yogyakarta, disamping mengepalai bagian kesenian pada Pendidikan Tentara Kemerdekaan Pertahanan Republik Indonesia.
Kegiatan lainnya menjadi ketua Seniman Indonesia Muda (SIM) Yogyakarta, sebelum itu menjadi ketua Seniman Masyarakat dikota yang sama. Memasuki tahun 1951, dia menjadi dosen pada Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)Yogyakarta yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Menjelang didirikannya organisasi Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) sekitar tahun 1938, dia menjadi satu-satunya yang menolak untuk bergabung karena kesadarannya bukan selaku ahli gambar tetapi selaku pelukis.

Para saat itu sebutan pelukis belum sepopuler seperti sekarang ini, yang dikenal adalah juru sungging atau tukang gambar. Pada mulanya dia dikenal selaku pelukis cat air dengan ukuran yang relatif kecil. Karya yang dibuatnya rata-rata dalam ukuran 25 X 40 cm, atau menyesuaikan ukuran kertas/buku gambar.

Menurut pengakuannya, melukis dengan medium cat minyak atau acrylic tidaklah sesulit melukis dengan menggunakan cat air. Dia menyukai untuk melukis yang sulit-sulit menurut pengalamannya dengan demikian terdapat tantangan dalam dirinya. Karena prestasinya, pada tahun 1953-1956, dia mendapat kesempatan melawat keberbagai negara di Eropa Barat termasuk negeri Belanda atas undangan Sticusa sebuah lembaga kebudayaan Belanda di Indonesia yang kini disebut sebagai Erasmus Huis.

Selanjutnya pada tahun 1960, dia dipercaya menjadi wakil ketua International of Plastic Art UNESCO (IAPA) di Indonesia. Kemudian pada tahun 1970, dia terpilih menjadi anggota seumur hidup Akademi Jakarta yang mengemban tugas selaku penasehat Gubernur DKI Jakarta dibidang kesenian atau kebudayaan. Bila karya-karya Rusli diamati secara seksama, dia adalah seorang pelukis esensi yang sangat konsekuen serta selektif dalam penggunaan unsur-unsur seni lukisnya termasuk pembubuhan nama, tanggal, bulan, tahun dan cap jempol tangan kanannya yang selalu mengakhiri pada setiap lukisan yang dibuatnya

27. Raden Saleh

Raden Saleh Sjarif Boestaman (Semarang, 1807[1][2] atau 1811[3] - Buitenzorg (sekarang Bogor), 23 April 1880) adalah salah seorang pelukis terkenal dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab.[4] Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof.Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan BelgiaA.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.
Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat. Wajar ia dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Para pelukis muda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.
Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia", ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi.
Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya. Dua tahun pertama ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.
Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Menteri JajahanRaja Willem I (1772-1843), dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.
Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya DresdenJerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.
Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863), pelukisPerancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari.
Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau memengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.
Tak banyak catatan sepulangnya di Hindia. Ia dipercaya menjadi konservator pada "Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni". Beberapa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya. Yang lain, ia bercerai dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Keraton Solo.
Di Batavia ia tinggal di rumah di sekitar Cikini. Gedungnya dibangun sendiri menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis. Sebagai tanda cinta terhadap alam dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi Rumah Sakit PGI CikiniJakarta.
Tahun 1875 ia berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya pada 23 April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh mencuri lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis atau pembekuan darah.
Tertulis pada nisan makamnya di BondonganBogor, "Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda". Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh
Tokoh romantisme Delacroix dinilai memengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (1844 - 1851).
Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.
Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.
Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Lukisan "Penyerahan Diri Diponegoro" karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman(1835).
Meski serupa dengan karya Nicolaas Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnyaPangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.
Berbeda dengan versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.
Lukisan "Penangkapan Diponegoro" karya Raden Saleh (1857).
Lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di rumah kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De Kock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan.
Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga.
Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala seekor singa, kini tersimpan dengan baik di Istana MangkunegaranSolo. Lukisan ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie's Singapura seharga Rp 5,5 miliar.
Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan TerbakarBerburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha.
Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil unik dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap denganblangkon. Di antara mereka adalah bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Johannes van den BoschJean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels.
Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dll.
Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas yang sedang berkelahi.
Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti RijkmuseumAmsterdamBelanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre,Paris, Perancis.
Pada tahun 2008, sebuah kawah di planet Merkurius dinamai darinya.[5][6]