Rusli adalah seorang putra dari keluarga krani sebuah perkebunan tembakau di Padangbulan, Medan, Sumatera Utara. Ketika anak-anak dia menempuh pendidikan HIS (SD) di Medan, kemudian melanjutkan ke tingkat MULO (SMP) di Yogyakarta. Pada mulanya dia ingin mempelajari ilmu ketabiban, namun pilihan akhir jatuh pada alam pikiran Rabindranath Tagore, seorang tokoh besar dibidang kebudayaan dan filsafat dari India . Untuk itu, dia kemudian menempuh pendidikan Kala Bhawana Art Department Shantiniketan University of Rabindranath Tagore’. Disana dia menghabiskan waktu sekitar 5-6 tahun menekuni bidang seni lukis murni, seni patung mural/relief, terakota, arsitektur dan filsafat kesenian timur mashab shantineketan.
Sekembalinya dari India , dia langsung memasuki kancah revolusi fisik kehidupan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Selanjutnya sekitar tahun 1945-1949 menjadi guru pada Perguruan Taman Siswa Pusat di Yogyakarta, disamping mengepalai bagian kesenian pada Pendidikan Tentara Kemerdekaan Pertahanan Republik Indonesia.
Kegiatan lainnya menjadi ketua Seniman Indonesia Muda (SIM) Yogyakarta , sebelum itu menjadi ketua Seniman Masyarakat dikota yang sama. Memasuki tahun 1951, dia menjadi dosen pada Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)Yogyakarta yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Menjelang didirikannya organisasi Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) sekitar tahun 1938, dia menjadi satu-satunya yang menolak untuk bergabung karena kesadarannya bukan selaku ahli gambar tetapi selaku pelukis.
Para saat itu sebutan pelukis belum sepopuler seperti sekarang ini, yang dikenal adalah juru sungging atau tukang gambar. Pada mulanya dia dikenal selaku pelukis cat air dengan ukuran yang relatif kecil. Karya yang dibuatnya rata-rata dalam ukuran 25 X 40 cm, atau menyesuaikan ukuran kertas/buku gambar.
Menurut pengakuannya, melukis dengan medium cat minyak atau acrylic tidaklah sesulit melukis dengan menggunakan cat air. Dia menyukai untuk melukis yang sulit-sulit menurut pengalamannya dengan demikian terdapat tantangan dalam dirinya. Karena prestasinya, pada tahun 1953-1956, dia mendapat kesempatan melawat keberbagai negara di Eropa Barat termasuk negeri Belanda atas undangan Sticusa sebuah lembaga kebudayaan Belanda di Indonesia yang kini disebut sebagai Erasmus Huis.
Selanjutnya pada tahun 1960, dia dipercaya menjadi wakil ketua International of Plastic Art UNESCO (IAPA) di Indonesia. Kemudian pada tahun 1970, dia terpilih menjadi anggota seumur hidup Akademi Jakarta yang mengemban tugas selaku penasehat Gubernur DKI Jakarta dibidang kesenian atau kebudayaan. Bila karya-karya Rusli diamati secara seksama, dia adalah seorang pelukis esensi yang sangat konsekuen serta selektif dalam penggunaan unsur-unsur seni lukisnya termasuk pembubuhan nama, tanggal, bulan, tahun dan cap jempol tangan kanannya yang selalu mengakhiri pada setiap lukisan yang dibuatnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar