dilahirkan di Bandung , Jawa Barat, tahun 1949. Sejak berusia delapan tahun ia telah akrab dengan gaya melukis realisme. Untuk lebih memperdalam keahliannya dalam melukis, ia kemudian belajar melukis di Studio Rangga Gempol pada pelukis Barli Sasmitawinata (alm) di Bandung.
Dalam perjalanan kreatifnya, ia pernah keluar dari gaya realisme yakni dengan mencoba melukis dengan medium cat air yang cenderung ekspresif, dekoratif pada era tahun 1970-1980-an. Namun, sebagai seniman ia kemudian merasa gelisah karena ada sesuatu yang mandek dalam dirinya. Baru setelah pindah dari Bandung dan kemudian menetap di Bali pada tahun 1987, ia kembali tertantang untuk mengevaluasi aktivitas kesenimanan yang pernah di lakukannya.
Chusin yang merasa terlahir kembali kemudian mulai menggunakan teknik drawing untuk melukis model. Ini merupakan cara pelukis mengasah kepekaan mengubah realistik. Namun, ia menyangkal
anggapan yang menyebutkan bahwa kepindahannya ke Bali semata-mata karena alasan komersial. Hal tersebut kemudian dibuktikannya dengan jarangnya lukisan karyanya yang dipajang di galeri-galeri di Bali .
Bagi Chusin, melukis dengan pendekatan realisme fotografis bukanlah sekedar menyalin kenyataan ke atas kanvas, akan tetapi
Ia melakukan observasi mendalam terhadap apa yang akan dilukisnya sehingga ada kadar spiritual dalam karyanya, seperti yang ia tunjukan dalam beberapa lukisan karyanya yang bertema ‘Pasar Kintamani’, di mana secara emosional ia pernah terlibat dengan kegelisahan para pedagang Pasar Kintamani, pasar tradisional yang hendak digusur dan diubah menjadi bangunan beton.
|
Merasa tak ingin kehilangan keindahan Pasar Kintamani, Chusin-pun selama beberapa bulan memotret pasar tersebut. Puluhan foto tersebut kemudian menjadi dasar untuk membuat lukisan. Sejak tahun 1994, Chusin intens menggarap tema Pasar Kintamani. Bahkan salah satu lukisannya yang berukuran panjang delapan meter, kini disimpan di Museum Fukuoka, Jepang.
Tercatat beberapa pameran tunggal dan pameran bersama di dalam dan luar negeri pernah ia ikui, diantaranya pameran tunggal ”Rupa Realistik Post Fotografi” di Galeri Nasional, Jakarta (2002), Pameran Tunggal “Post Photography Realistic Portrayal”, CP Artspace, Washington DC, Amerika Serikat (2002). Sedangkan pameran bersamanya antara lain : Exhibition “The Mutation of Contemporary Indonesian Paintings”, Tokyo – Jepang (1997), Participant of The 1st Fukuoka Asian Triennale, Fukuoka – Jepang (1999), Group Exhibition “Indonesia Contemporary Art”, Museum of Modern Art, Moskow – Russia (2000), Participant “CP Open Biennale 2003″, Jakarta (2003) Group Exhibition ” Multi Subculture”, Berlin – Jerman (2004), dll.
“Lukisan realistik belum mati. Masalahnya, bagaimana menumbuhkan persepsi atau pemahaman baru masyarakat terhadap karya realisme. Juga bagaimana si artis memahami kemutakhiran,” ujar anak ketujuh dari delapan bersaudara ini. Kalau memang dianggap telah mati, maka seniman yang pernah mendapat penghargaan Winner of 5 Best Phillip Morris ASEAN ART AWARDS (1996) dan karyanya “Float and the Might 1″ meraih gelar The Excellent Work Award (2005) ini akan coba menghidupkannya. Ia mengibaratkan keterlibatannya dalam gaya rupa realistik fotografi itu sebagai sebuah perjalanan yang menantang, yang justru menggairahkan hidup.
Chusin Setiadikara kini tinggal menetap di Jl. Puri Baliku (Perum. Graha Kencana), No. 8B, Denpasar, Bali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar