Minggu, 21 Juli 2013

26. Pirngadie

lahir sekitar 1875, meninggal sekitar 1936. Ia seorang dari pelukis naturalis dari aliran Mooi Indie yang mumpuni dari Indonesia, dilahirkan dalam keluarga aristokratis Banyumas. Sebagai hasil dari kelahirannya di lingkungan bangsawan ia dapat berhubungan dengan penghuni-penghuni Belanda di Indonesia, di antara mereka adalah pelukis Du Chattel yang melatih pemuda Indonesia muda ini melukis dengan cat air. Kesamaan karyanya sering mengingatkan pada karya gurunya J.E. Jasper mengungkapkan bahwa Pirngadie dapat menunjukkan warna yang tegas untuk menggambarkan langit Indonesia yang biru tembus cahaya dan kaya mega-mega yang lebut. Di samping itu dalam karya-karya aquarelnya sering ada kesan sesuatu yang halus, mengarah ke suasana mimpi. Dataran yang sepi, gunung-gunung yang diam dapat mengungkapkan perasaannya yang dalam. Pirngadie menguasai teknik-teknik melukis Barat; ia memproduksi pemandangan-pemandangan alam serta membuat lukisan-lukisan tentang kehidupan rakyat.
Pirngadie adalah seorang penggambar draf yang benar-benar terampil dan akurat; ia bekerja lama pada The Royal Batavian Society for Arts dan Dinas Arkeologi untuk membuat gambar-gambar rekonstruksi yang tepat dari reruntuhan monumen-monumen: ia juga membuat gambar bagi Jasper untuk membuat ilustrasi sebuah monograf besar tentang seni rupa dan kriya Indonesia. Ia melatih beberapa pelukis muda Indonesia, diantara mereka adalah Sudjojono dan Suromo.

25. Odji Lirungan

Born in Jakarta on 8 August 1957, Odji graduated from the Indonesia Art Institute of Yogyakarta in 1986. He now lives and works in Jakarta.
Exhibitions

  • 1980: Group exhibition, Yogyakarta.
  • 1981: Group exhibition, Yogyakarta. Group exhibition of ceramics, Yogyakarta.
  • 1982: Group exhibition, Yogyakarta and Solo.
  • 1983: Group exhibition, ISI Yogyakarta
  • 1983: Solo exhibition, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
  • 1984: Group exhibition, Yogyakarta
  • 1992: Duo Odji & Sarnadai Adam, Balai Budaya, Jakarta.
  • 1992: Group exhibition, TIM, Jakarta.
  • 1995: Group exhibition, Balai Budaya, Jakarta.
  • 1996: Solo exhibition, Balai Budaya, Jakarta.
  • 1996: Group exhibition, Balai Budaya, Jakarta. Group exhibition at Bentara Budaya, Jakarta
  • 1997: Solo exhibition, Bentara Budaya, Yogyakarta.
  • 1998: Solo exhibition, TIM, Jakarta.
  • 1998: Group 10 exhibition, Balai Budaya, Jakarta.
  • 1998: Group exhibition "Figuration Critique", Paris. Biennale XV
  • 1998: Group exhibition, Cemara Gallery, Jakarta.
  • 1998: Group exhibition, Bebek Bali Cafe & Resto, Jakarta
  • 1999: Solo exhibition, Galeri Milenium: "Bullshit"

24. Nashar

Nashar (lahir di PariamanSumatera Barat3 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta13 April 1994 pada umur 65 tahun) adalah seorang pelukis ternama Indonesia. Nashar banyak belajar senirupa dari S. Sudjojono di Yogyakarta, seorang pelukis besar yang kemudian hari dinobatkan sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia.[1] Dia juga menerima pelajaran dari perupa ekspresionis, Affandi, yang mengajarinya melukis dengan mengambil objek kehidupan sehari-hari, yang terus dipertahankan sepanjang hidupnya.
Ditambah dengan didikan yang keras dari seorang ayah dan dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan, telah menjadikannya legenda yang nyaris sempurna untuk seorang pelukis, sehingga dia-pun dianggap sebagai salah satu maestro senirupa Indonesia.[2]
Nashar pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), namun kemudian dia mengundurkan diri dari lembaga itu karena perbedaan pandangan mengenai sistim pendidikan bagi siswa senirupa. Dia menolak sistim akademis yang dilaksanakan LPKJ. Dia seorang pengajar yang suka bergaul langsung dan menggambar bersama dengan siswa-siswanya, sehingga ia dianggap sebagai pengajar yang simpatik. Bagi Nashar, teori yang diajarkan di akademi senirupa tak begitu penting, meski teori boleh saja diajarkan pada siswa. Baginya aspek penjiwaan dalam diri seorang pelukis jauh lebih penting bagi seorang siswa yang mau mendalami senirupa.[3]
Nashar pernah mengadakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 22 sampai 28 Pebruari 1973 dengan menampilkan empat puluh buah karya-karya lukisannya yang baru dan yang lama.

23. Muslim Saleh

Belum diketahui

22. Muhammad Faisal

Pelukis abstrak kelahiran Papua

21. Lian Sahar

Lahir di Aceh, Januari 1933, tetapi memilih hidup di perantauan sejak usia remaja hingga sekarang. Kini ia bermukim di tanah Jawa yang penuh romantika. Entah kenapa ia betah dan memilih hidup di tanah Jawa sebagai kampung kedua, Yogyakarta. Ia tak mau balik ke kampung kelahirannya. Katanya lebih senang tinggal di perantauan yang penuh tantangan. Menilik kariernya, ia bukan sembarang seniman yang lahir begitu saja. Ia kokoh dalam konsep dan meramunya dengan akar bakat, minat, akal budi dan semangat juang. Hingga tiba di puncak prestasi. Lihatlah karyanya, unggul di percaturan Biennale Seni Lukis Indonesia II dan III yang diadakan di Pusat Kesenian Jakarta TIM. Suatu kehormatan dan penghargaan tertinggi itu menclok di dadanya.
Seusai menamatkan SMA di Medania hijrah ke Jakarta melanjutkan studi pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia. Awalnya kepingin menjadi ahli hukum, setidaknya menjadi pengacara. Tetapi impiannya kandas di tengah jalan. Tidak jadi pengacara pun tak apa. Toh profesi lain yang lebih terhormat dari pada pengacara masih terbentang luas. Lantas ia bersyukur. Kegairahannya di blantika kesenian membawanya sampai di Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogya) guna memasuki pendidikan formal Seni Rupa ASRI Yogyakarta.
Dari Yogyakarta terbang ke Jawa Barat, mengikuti pendidikan Seni Rupa ITB Bandung. Maka lengkaplah pengalaman Lian di dalam menimba ilmu di tanah Jawa yang subur makmur loh jinawi.

Lian Sahar suka mengembara kemana-mana. Paling tidak dari tempatnya bermukim di Yogyakarta, jalan-jalan ke JakartaBandung dan kota-kota lainnya. “‘Saya tidak akan berhenti melukis selagi Tuhan masih memberikan kekuatan untuk bergerak” katanya, dia juga mengatakan “Seniman itu tidak pernah pensiun seperti pegawai negeri. Itu sebabnya hingga saat ini saya senang jalan-jalan mencari hawa segar sambil menggoreskan kuas di atas bidang kanvas”.

Pelukis gaek ini seringkali membuat sketsa. Kalau orang lain melukis membuat sketsa dengan perangkat kontur (garis pinggir) yang membentuk wujud, maka sketsa Lian lain lagi. Sketsanya di blok dengan warna yang memikat. Sehingga sketsa tak sekadar sketsa yang oleh sementara orang disebut sebagai biola tunggal. Tetapi sketsa Lian Sahar, memberi kelonggaran sebagai orkestra lengkap yang mengalunkan pesona indah di atas bidang kanvas. Kendati pun sketsanya bisa saja memperlihatkan kesan abstrak atau pun surealis sampai pada penghayatan yang masih terikat pada bentuk.

Soal pameran ? Tak terhitung jumlahnya. Dari mulai pameran di tingkat lokal, nasional hingga internasional. Dari kota-kota kantong budaya seperti JakartaBandung, Yogyakarta, Bali, Aceh hingga menyeberang ke mancanegera. Dari jajaran negara ASEAN, Asia, Eropa hingga Amerika Serikat. Tetapi yang paling berkesan di hatinya ialah ketika lukisannya di pamerkan dan di kelilingkan di negeri Paman Sam. Khususnya ketika mengikuti pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat) Tak hanya itu, puluhan karya Lian Sahar banyak tersebar dimana-mana, dimiliki oleh para kolektor. Dan lukisannya menghiasi ruang-ruang kantor swasta, bank dan pemerintah. Di antaranya lukisan dan reliefnya terpancang di kantor Gubernur Aceh, Gubernur DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Samarinda, Departemen Pendidikan Nasional, Museum Istana Negara RI, Galeri Pusat Kesenian Jakarta TIM, dan lain-lain.

Sabtu, 20 Juli 2013

20. Lee Man Fong

Lee Man Fong (1913-1988) adalah seorang pelukis Indonesia yang dilahirkan di Tiongkok. Ia dibesarkan dan mendapatkan pendidikannya di Singapura. Di sana ia belajar melukis dengan seorang pelukis Lingnan, dan belakangan dengan seorang guru yang mengajarkannya lukisan minyak. Pada tahun 1933 ia pergi ke Indonesia dan tinggal di sana selama 33 tahun. Pada masaPerang Dunia II ia ditawan Jepang, dan setelah Indonesia merdeka, ia menjadi pelukis istana Presiden Soekarno dan menjadi warga negara Indonesia. Lukisan-lukisan Lee Man Fong diakui sebagai perintis pelukis Asia Tenggara. Pada Tahun 1964 ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk membuat buku yang berjudul "Lukisan-Lukisan dan Patung dari Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia" buku ini berisi seluruh karya-karya seni yang dimiliki Presiden Soekarno dan semuanya berjumlah 5 Volume.
Kumpulan lukisannya diterbitkan dalam buku Lee Man Fong: Oil Paintings, volume I dan II dan diterbitkan oleh museum Art Retreat. Buku ini ditulis oleh kritikus seni Indonesia Agus Dermawan T., sementara seleksi karya dilakukan oleh Siont Tedja. Kedua buku yang keseluruhannya berisi 700 halaman ini berisi 471 lukisan pilihan milik banyak kolektor dari seluruh dunia.
Pada tahun 1966, karena kekacauan politik di Indonesia, Lee Man Fong hijrah ke Singapura dan lama menetap di sana, sehingga ia bahkan dianggap sebagai pelukis Singapura. Tahun 1988 ia meninggal di PuncakJawa Barat, karena sakit.